Belajar di Kota Rantau



Dahulu, saat hendak melanjutkan ke perguruan tinggi, gadis daerah ini sempat dilanda kebimbangan. Saya saat itu berencana mengambil jurusan akuntansi di salah satu universitas di pulau Jawa.

Salah satu teman mencibir keputusan untuk melanjutkan studi di luar daerah tempat saya tumbuh besar di pulau Kalimantan. 

"Ngapain belajar jauh-jauh kalau jurusan yang diambil juga sama. Di sini juga ada akuntansi. Mending kuliah di sini," 
Kira-kira begitu ucapan teman saya. Masih teringat dalam ingatan saya. Saat itu saya hanya menjawabnya dengan senyuman.

Malam harinya, saya dan ibu duduk di depan televisi sembari melipati pakaian kering. Saya sampaikan pemikiran teman saya pada ibu. Ibu, sesosok wanita yang tidak punya kesempatan mengenyam bangku kuliah demi ketujuh saudaranya.

Ibu mendelik mendengar ceritaku, kemudian tersenyum geleng-geleng.

"Memang, kamu bisa belajar di mana saja, dengan siapa saja, Mim. Belajar itu nggak terbatas. Menurut Mamah (Panggilanku pada Ibu) belajar di kota rantau tidak hanya tentang kuliah dengan fasilitas dan materi yang lebih baik, tetapi juga bagaimana kamu menjadi mandiri, bertemu orang baru, belajar menghadapi perbedaan budaya, menyelesaikan masalah, berproses menjadi dewasa. Selagi kamu punya kesempatan dan orang tua mampu. Manfaatkan dan syukuri, supaya kelak kamu bisa berbagi lagi dengan orang lain,"
Mendengar jawaban ibu, saya terdiam mencerna. Paham, saya lalu merasa menjadi anak paling beruntung karena memiliki ibu seperti beliau.

2019, saya buktikan kata-kata Ibu. Semakin saya melangkah jauh dari asal saya, semakin saya sadar banyak hal yang saya tidak tahu. Akhirnya saya selalu harus belajar di mana pun, tak peduli tempat dan waktu.

Share:

0 komentar

Please kindly leave your comment with your ID